Merdeka, begitu saja..


bulan sempurna, semalam tersangkut di bibir jemuran bunda yang reot dan penuh semut gatal,
menyalami bumi negeri penuh emosi,
malam tadi 17-an dirundung kesenangan, dimulai,
bendera-bendera partai menutupi sekonyong kota, pusat belanja, jembatan layang, dan kehidupan,
sementara merah putih tenggelam di dalamnya,

sementara, sepagi itu orang berlalulalang, minggu,
berdebul dengan waktu, menghinggapi patriotisme jiwa, berupacara, tanpa kata-kata dan gairah...

setelahnya,
lomba-lomba berseliweran seantero negara, kerupuk yang dimakan, karung yang dikenakan pencerminan miskin dan papanya kehidupan, lomba berjalan mundur tak mau majukah ? dengan cita-cita keluhuran,
pinang dipanjat merebut hadiah yang tak seberapa, dengan pongah, merasa dirinya paling pantas meraihnya sementara calon presiden bermunculan satu persatu, latah dengan pinang yang di senggamakan,
menggigit uang di tengah pepaya yang pekat, pertanda pejabat selalu memangsa uang rakyat, yang hitam yang kotor.

Merdeka, begitu saja..
belum lagi nyanyian-nyanyian basi, dengan goyang-goyang mutilasi bergaung disana sini, bapak-bapak berjoget dengan gaun-gaun banci, memperebutkan kursi yang harus terisi meski kurang satu biji, silahkan maknai sendiri,

Merdeka, begitu saja..

Sementara,
darah kering,
keringat kita lupa aromanya,
airmata menjadi airmata tertawa,
semangat cuma birahi,

Merdeka, begitu saja..

rindu yang bersemi

setelah kepergianmu, 15 tahun yang lalu...
hari ini, aku mulai merasa, betapa aku sangat membutuhkanmu,
sebagai pemandu jalanku yang mulai terlalu jauh melangkah jemu,
sebagai guru hidupku, yang mengajarkanku segala sesuatu, yang tampak maupun ghaib.

hari ini, tepat ketika itu,
kau diantar pulang orang sekampung,
menuju rumahmu yang terakhir,
kau tinggalkan rindu,
kau tinggalkan waktu,

ayah,
tak kan kulupa
saat kau gendong aku kesawah,
menangkap ikan-ikan yang basah,
setelah itu kau ajak aku ke musholah,
melepas lelah,
khusyu ibadah,
dan aku rindu, ingin mengulang waktu itu.

Allah,
kusemikan rinduku padanya,
semikanlah pula rahmatMu untuknya,
penuhi cahayaMu pada tempat tinggalnya,
gembirakanlah.

Malu-malu, aku berterima kasih

Tak terasa, sya'ban sudah menginjak ke delapan.
Harum rajab masih terngiang di belakang.
Dan dua penggalan, Ramadhan bertandang.

Tuhan,
Malu-malu, aku berterima kasih,
atas usiaku sampai hari ini.

Malu-malu, aku berterima kasih,

jangan pernah bosan menjadi Tuhan untukku,
maka,
ampunilah aku...

Messaging

Andainya,

semilir angin dapat menyampaikan pesan,

aku titip salam,

untuk bundaku yang kusayang,

"masihkah kau simpan surga di kakimu untukku,
anakmu yang tak putus di rundung rindu"