Alhamdulillah, Puisi saya dibaca di depan Mba HTR

Puisi ini :

http://metlove.blogspot.com/2008/02/kapan-kau-bisa-memahami-cinta.html

dibaca oleh seorang siswi alumni SMAN 103, namanya Suci Pertiwi F.

Sore, Jum'at kemarin (19/3), setibanya dari menjemput sang bidadari SMSku berderai menandakan ada seseorang yang mengirimnya. Kuambil Hp di saku celanaku, dan kubuka, tak ada nama pada nomor yang tertera di sana, kubaca isinya :
"Mr. izin baca puisi Mr. ya, saya lagi ada acara di kampus" kemudian ku balas "silahkan, sepuasnya"... dan seterusnya, kemudian dia menawarkan 2 puisi yang akan dia baca. Setelah beberapa lama, dia baru SMSku lagi, Mr. ada bunda HTR (Helvy Tiara Rosa) disini, ngeliatin saya baca puisinya Mr. "Wew" betapa senangnya ketika itu, puisiku dibaca didepan Mba HTR, waduh-waduh jadi mupeng di depan bidadariku....

Menulis lagi...

Akhirnya...

Setelah satu semester blog ini tak berpenghuni, ini hari akan kutulisi lagi kata dan puisi. Kurun waktu 6 bulan sudah kenyang aku berpetualang memperebutkan cinta dan harapan.

Semoga nantinya, aku bisa seproduktif dulu, dimana tiap suasana ada rasa, tiap gerak ada makna yang rekat, tiap lirik ada larik, tiap nafas ada imaji, dan tiap degup ada semangkuk ide yang bisa kujawantahkan kedalam tulisan, ya puisi... hanya itu saja yang bisa ku geluti.

Selanjutnya, kebermaknaan menjadi taruhan !

Ruang-ruang cinta...

akan ada yang baru di ruang cintaku,
ruang yang memaksa seluruh lapisan atom berputar,
memusat pada raya dan keagungan penciptaanNya...

cinta,
yang sering aku elu-elukan, terjabarkan disini...
ketika sang kerudung ungu itu mengkhatamkan pilihannya padaku,
berdeguplah,
nafas dan darah menjelma menjadi kata,

"untukku yang rapuh dan lemah, aku ingin kau menjadi penguatnya, dan jadilah tongkat dikala aku kealpaan pada jalan-jalanNya, penghibur diwaktu aku kesulitan, dan ramaikan aku selalu..."

ini hari, bukan aku hitung mundur akan kepastian itu,
tapi ini hari, aku hitung maju,
akan cita-cita, visi misi dan juga cinta yang terjawantahkan diatas ridhoNya

akan pesan terakhir ketika engkau atau aku mendahulukan,
titipkan salam ;
agar Dia memberi tempat untuk kita sekeluarga
dalam naungan penuh keindahan
akan sebuah tempat yang belum pernah dilihat oleh mata,
belum pernah terdengar oleh telinga
dan bahkan belum pernah terlintas dalam benak siapapun juga
tentang keindahan tempat itu
dalam ruang-ruang penuh cintaNya pada kita...

CINTA TANPA DEFINISI


Seperti angin membadai,
kau tak melihatnya,
kau merasakannya...

Merasakan kerjanya saat ia memindahkan gunung pasir di tengah gurun.
Atau merangsang amuk gelombang di laut lepas.
Atau meluluhlantakkan bangunan-bangunan angkuh di pusat kota metropolitan.

Begitulah cinta.
Ia ditakdirkan jadi kata tanpa benda.
Tak terlihat.
Hanya Terasa.
Tapi dahsyat !!!

Seperti banjir menderas.
Kau tak kuasa mencegahnya.
Kau hanya bisa ternganga ketika ia meluapi sungai-sungai,
menjamah seluruh permukaan bumi,
menyeret semua benda angkuh yang bertahan di hadapannya.

Dalam sekejap, ia menguasai bumi dan merengkuhnya dalam kelembutannya.
Setelah itu, ia kembali tenang:
seperti seekor harimau kenyang yang terlelap tenang.

Demikianlah cinta.
Ia ditakdirkan jadi makna paling santun yang menyimpan kekuasaan besar.

dari bang Anis Matta