RINDU BERGEMURUH

belum genap satu purnama,
sejak kulepas kepergianmu,
rasa rinduku bergemuruh,

meski tanpa tanda,
tanpa pelukan rasa,
atau sepatah kata,
langkahmu, meneteskan air mataku,

apakabarnya kekasihmu, kasihku ?

baru saja kulihat senyuman itu,
senyuman yang sama,
seperti masa sma,

kau,
menyeruak lagi,
melalui bayang-bayang semedi,
entah dari mana asalnya,
bayangmu tersangkut di bayangku.

duhai yang jeli matanya,
bolehkah aku merindumu,
duhai yang lentik bulu matanya,
yang indah lesung pipi dan dagunya,
masih kulihat pesona surga di wajahmu,

aku ingin bukan mimpi sesaat,
melihatmu kembali,

tapi,
bolehkah ku tanya ?

apakabarnya kekasihmu, kasihku ?

BANGKIT ITU . . . . .

Sebuah sajak yang dibawakan apik oleh kang Dedi Mizwar, dalam memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional. Perlu kita cermati tiap kata yang disusun rapi dan dibacakan penuh emosi . . .

Bangkit itu Susah
Susah melihat orang lain susah
Senang melihat orang lain senang

Bangkit itu Takut …
Takut untuk korupsi
Takut untuk makan yang bukan haknya

Bangkit itu Malu …
Malu menjadi benalu
Malu minta melulu

Bangkit itu Marah …
Marah bila martabat bangsa dilecehkan

Bangkit itu Mencuri …
Mencuri perhatian dunia dengan prestasi

Bangkit itu Tidak ada …
Tidak ada kata menyerah
Tidak ada kata putus asa

Bangkit itu aku…
Aku untuk I n d o n e s i a ku

KUSAMPAIKAN . . . . . .

jika esok perpisahan
kutitip salam pada tuhan
agar Ia menjagamu
selalu...

terlalu banyak kenangan disini
tak cukup air mata menangisi
tapi ku coba balut dengan puisi
agar riang isi hati

jika esok perpisahan
sebisa mungkin aku berdo'a
agar kau bahagia
meski jarak berjauhan

cukup sudah masamu disini
namun belum cukup pasti, isi dari ilmu yang kau tuntut
sebab dunia luas tak bertepi
arungilah, jangan kau takut

jika esok perpisahan
kuucapkan
selamat jalan...